Home » » Kremasi Jenazah Suku Karo Tempo Dulu

Kremasi Jenazah Suku Karo Tempo Dulu

Jakarta (GWT) - Kremasi telah dikenal oleh masyarakat suku Karo marga Sembiring sejak dulu, mereka menyebutnya dengan ritual Sirang-sirang. 

Ritual sirang-sirang ini, dipimpin oleh seorang dukun atau guru yang didukung oleh 4 orang pembakar yang disebut sindapur.

Upacara sudah dimulai saat mayat akan dibawa ke tempat kremasi, dimana sebelum mayat keluar rumah, di depan pintu utama ditempatkan kudin (cipera). Dialnjutkan dengan upacara penendangan belanga hingga pecah oleh istri atau suami dari yang meninggal. Hal tersebut memiliki makna, atau lambang dari hancurnya hati pasangan yang ditinggalkan.

Selanjutnya acara menyantap hidangan makan siang dengan lauk daging ayam oleh segenap kerabat. Hal ini mempunyai makna untuk menghilangkan kesedihan atas meninggalnya orang tercinta. Setelah makan siang, mayat dibawa ke tempat kremasi di lapangan terbuka, yang dekat dengan sungai.

Setelah sampai di tempat kremasi, keluarga dari yang meninggal, diminta untuk kembali ke rumah,  sementara yang tinggal hanya dukun pemimpin ritual dengan 4 orang sindapurnya, mereka terus bernyanyi.

Sebelum upacara kremasi, para  anak beru (keluarga dari pihak laki-laki) harus mempersiapkan kayu bakar yang cukup untuk ritual tersebut, dengan kayu bakar yang berasal dari kayu pohon dokum. Hal ini dikarenakan, selama proses pembakaran mayat, kayu tidak boleh ditambah.

Sebelum api dinyaahkan, dukun meminta sindapur untuk melepaskan semua pakaian jenazah, lalu ditelungkupkan di atas batang kayu dokum.

Kemudian atas petunjut sang dukun, sindapur melangkahkan kaki jenazah sekuat-kuatnya, agar arwahnya tidak dapat digunakan dan gentayangan. Bagi wanita yang meninggal, bayinya juga dibakar dengan sang ibu. Setelah itu, barulah sang dukun memotong jenazah di atas kayu yang telah disiapkan.

Setelah pembakaran mayat, sindapur harus segera membuang abu jenazah ke sungai terdekat, juga sisa-sisa upacara, agar-sisa jenazah tidak digunakan oleh orang-orang yang menganut ilmu hitam.

Kemudian Sindapur dmulailah ritual yang dipimpin oleh sang dukun. Para Sindapur dimandikan dengan Lau penguras, atau udara yang sudah dijampi-jampi oleh sang dukun. Setelah itu, para Sindapur baru bisa pulang ke rumah. Setelah sampai di rumah mereka masing-masing, merka harus memegang telapak tangan, dan memegang para-para (tungku api unuk), dengan demikian sindapur tidak diganggu oleh tubuh orang yang dibakarnya tadi.

Bolleh dikataakan, bahwa saat ini sudah tidak ada lagi marga Sembiring yang melakuan upacara ini.

Sumber : dari berbagai sumber

Foto : Istimewa

Thanks for reading & sharing Gosip WA Terkini

Previous
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Gosip WA Terkini

Populer